![]() |
| Akademisi LSPR dan Mitra Netra |
TRIBUNPASUNDAN.COM, JAKARTA – Upaya mewujudkan ruang publik yang ramah disabilitas terus berkembang melampaui sekadar aksesibilitas fisik. Mahasiswa Program Pascasarjana Komunikasi LSPR Communication and Business Institute, bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, menyelenggarakan inisiatif bertajuk “Ruang KolaboRASA” dan “Diskusi Inklusi” di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026). Kegiatan ini bertujuan menggeser paradigma komunikasi merek yang selama ini didominasi oleh pendekatan visual menuju pengalaman multisensorik yang inklusif.
Redefinisi Pengalaman Melalui Pendekatan Multisensorik
Selama ini, strategi komunikasi dan pemasaran produk sangat bergantung pada estetika visual. Namun, bagi penyandang disabilitas netra, kedekatan dengan sebuah entitas atau merek lebih efektif dibangun melalui indra penciuman (aroma), pendengaran (suara), sentuhan (taktil), serta narasi deskriptif.
Akademisi LSPR, Hersinta, Ph.D., menjelaskan bahwa secara neurosains, aroma memiliki jalur langsung ke sistem limbik di otak yang mengatur memori dan emosi. "Pendekatan multisensorik bukan sekadar alternatif, melainkan keharusan untuk menciptakan kesetaraan pengalaman. Saat aspek visual absen, aroma dan tekstur mampu menghadirkan kedekatan emosional yang spontan dan mendalam," paparnya dalam diskusi bertema “Aroma, Ingatan, dan Pengalaman”.
Etika Komunikasi: Deskripsi Diri sebagai Bentuk Penghormatan
Satu hal unik dalam kegiatan ini adalah penerapan protokol komunikasi inklusif. Setiap narasumber memulai sesi dengan mendeskripsikan penampilan fisik mereka secara verbal mulai dari warna pakaian hingga ciri wajah. Langkah ini memungkinkan peserta tunanetra membangun citra visual mental yang utuh mengenai lawan bicara mereka, sekaligus menegaskan pentingnya kesadaran akan keberagaman audiens.
Cheta Nilawaty, jurnalis tunanetra pertama di Indonesia sekaligus anggota Yayasan Mitra Netra, menekankan bahwa inklusi sejati berarti keterlibatan penuh dalam pengalaman. "Inklusi bukan hanya soal kami bisa masuk ke dalam ruangan, tetapi bagaimana kami bisa merasakan isi dari ruangan tersebut secara utuh melalui elemen non-visual," tegas Cheta.
Refleksi Peserta: Dari Aroma ke Memori Personal
Dalam sesi eksplorasi, peserta berinteraksi langsung dengan adonan roti kopi yang memiliki aroma khas. Melalui sentuhan langsung pada tekstur adonan (taktil) dan penciuman terhadap aroma yang keluar saat proses pemanggangan, peserta mendapatkan gambaran produk yang lebih nyata dibandingkan hanya melalui penjelasan lisan.
Suryo, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa stimulasi aroma memicu memori personal yang kuat. "Aroma ini membawa saya kembali ke suasana hangat di rumah. Pengalaman seperti ini membuat kami merasa benar-benar dianggap dan dilibatkan dalam narasi sebuah produk," ujarnya.
Dukungan Publik dan Komitmen Akademis
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari figur publik Dude Harlino. Melalui pesan audio, ia mengajak masyarakat dan pelaku industri untuk lebih peka terhadap kebutuhan sensorik penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari guna menciptakan lingkungan sosial yang lebih empati.
Dari sisi akademis dan praktisi, para mahasiswa Pascasarjana LSPR menyoroti pentingnya data berbasis komunitas dalam merancang strategi. Baby Bintansyah, yang juga merupakan penyandang low vision, memandang kegiatan ini sebagai "ruang pengakuan" di mana suara komunitas dijadikan landasan perubahan, bukan sekadar pelengkap.
Labaika Natin, praktisi pemasaran digital, menambahkan bahwa strategi komunikasi yang berkelanjutan harus bermuara pada insight nyata dari pengguna. Senada dengannya, Andika Wattimena, praktisi media, menegaskan bahwa representasi autentik hanya bisa dicapai jika komunitas dilibatkan langsung dalam proses kreatif sejak awal.
Kegiatan yang ditutup dengan buka puasa bersama ini menjadi simbolisasi nyata bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu menyentuh seluruh aspek kemanusiaan, melampaui batas pandangan mata.
"Kalau mata tak bisa melihat, biarkan aroma yang menyampaikan maknanya."


