Notification

×

Iklan

Iklan

contoh-banner-di-tribunpasundan-1

News Ticker

Untuk kerjasama dan iklan di TribunPasundan.com , silahkan hubungi 0857-1857-1347

Keuntungan Pengusaha Dapur MBG: Analisis Mendalam BGN | Republika Online

Rabu, 01 Oktober 2025 | Oktober 01, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-01T08:12:00Z
ilustrasi pengusaha dapur/indonewstoday.com


TRIBUNPASUNDAN.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan publik, terutama karena maraknya kasus keracunan makanan. Isu ini memunculkan pertanyaan mengenai keuntungan yang diperoleh pengusaha dapur MBG.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, memberikan penjelasan detail mengenai hal ini dalam konferensi pers yang dikutip oleh Republika pada Ahad, 28 September 2025.

Pengawasan Ketat Anggaran MBG

Menurut Nanik S Deyang, penyalahgunaan anggaran oleh pengusaha Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG sangat kecil kemungkinannya. Hal ini disebabkan oleh pengawasan yang ketat terhadap penyaluran anggaran.


Dana untuk program MBG berasal dari Kementerian Keuangan dan disalurkan langsung melalui KPPN ke dapur SPPG. Dana tersebut disimpan dalam akun virtual atau virtual account rekening bersama antara mitra dan SPPG. Penarikan dana hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak.


Nanik mencontohkan, mitra BGN tidak bisa sembarangan membeli bahan baku dari supplier yang tidak sesuai kebutuhan. Demikian pula, SPPG tidak bisa menggunakan dana tanpa persetujuan mitra. Hal ini berfungsi sebagai kontrol terhadap dana pemerintah.


Rincian Anggaran per Porsi MBG: Rp15 Ribu

Nanik menjelaskan bahwa anggaran untuk satu porsi MBG adalah Rp 15 ribu. Namun, tidak semua dana tersebut digunakan untuk kebutuhan makan.


  • Sewa Usaha: Rp 2.000 digunakan untuk biaya sewa gedung, tanah, peralatan, dan kebutuhan lainnya. Dana ini masuk ke kantong mitra BGN.
  • Biaya Operasional: Rp 3.000 dipotong untuk biaya operasional seperti gaji karyawan, listrik, internet, gas, sewa mobil operasional, dan transportasi.
  • Sisa untuk Bahan Baku: Setelah dikurangi biaya sewa dan operasional, hanya tersisa Rp 10 ribu yang digunakan untuk membeli bahan baku makanan.


Mitra: Investasi, Bukan Keuntungan Instan

Nanik menegaskan bahwa dana Rp 2.000 untuk sewa usaha bukanlah keuntungan bagi mitra. Mitra BGN dianggap sebagai investor yang menanamkan modal untuk membangun dapur dan menyediakan peralatan.


Investasi untuk membangun satu dapur dengan peralatannya bisa mencapai miliaran rupiah. Oleh karena itu, diperlukan waktu yang tidak sebentar bagi mitra untuk mengembalikan modal mereka. Bahkan, menurut Nanik, jika jumlah MBG yang ditangani sedikit, modal bisa saja belum kembali dalam waktu lima tahun.


Peran Penting dalam Pengelolaan Anggaran

Nanik juga menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran yang tepat. Ia mencontohkan, jika hanya Rp 7.000 atau Rp 8.000 yang dibelanjakan untuk bahan baku, kualitas menu akan buruk. Hal ini menunjukkan bahwa anggaran harus dikelola secara bijak agar gizi anak-anak terpenuhi dengan baik.


Dengan demikian, keuntungan pengusaha dapur MBG bukanlah hal utama. Fokus utama adalah menyediakan makanan bergizi sesuai dengan standar yang ditetapkan, sambil memastikan keberlangsungan investasi mitra.

**