Notification

×

Iklan

Iklan

contoh-banner-di-tribunpasundan-1

News Ticker

Untuk kerjasama dan iklan di TribunPasundan.com , silahkan hubungi 0857-1857-1347

AS Jatuhkan Sanksi pada Menteri Perminyakan Iran Terkait Ekspor Minyak

Selasa, 25 November 2025 | November 25, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-25T03:42:37Z

Pada hari Kamis, 13 Maret, Amerika Serikat mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi kepada Mohsen Paknejad, Menteri Perminyakan Iran. Selain itu, beberapa kapal yang terdaftar di Hong Kong, yang diduga terlibat dalam armada bayangan yang menyamarkan pengiriman minyak Iran, juga menjadi sasaran sanksi dari Departemen Keuangan AS. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menekan Iran terkait program nuklir dan aktivitasnya.

Latar Belakang Sanksi dan Kebijakan Tekanan Maksimum

Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengaktifkan kembali kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran pada Februari. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk menekan ekspor minyak Iran hingga nol, dengan harapan dapat menghentikan Teheran memperoleh senjata nuklir dan memberikan pendanaan kepada kelompok militan. Kebijakan ini mencerminkan kekhawatiran AS terhadap stabilitas regional dan pengembangan senjata nuklir di Iran.

Paknejad, menurut pernyataan Departemen Keuangan AS, mengemban tanggung jawab dalam mengawasi ekspor minyak Iran yang bernilai puluhan miliar dolar. Sebagian dari minyak tersebut, senilai miliaran dolar, dialokasikan untuk angkatan bersenjata Iran guna tujuan ekspor. Tindakan ini menunjukkan bahwa pemerintah AS terus memantau dengan cermat aliran dana dan kegiatan yang terkait dengan sektor perminyakan Iran.

Pernyataan Pejabat AS

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataannya menekankan bahwa rezim Iran terus menggunakan sumber daya minyak negara untuk kepentingan pribadi, yang dinilai merugikan rakyat Iran. Ia juga menegaskan bahwa Departemen Keuangan AS akan terus berupaya menggagalkan upaya rezim tersebut dalam mendanai kegiatan yang dianggap merusak stabilitas dan melanjutkan agenda yang dianggap berbahaya.

Penargetan Kapal dan Dampaknya

Departemen Keuangan AS juga mengidentifikasi pemilik atau operator kapal yang terlibat dalam pengiriman minyak Iran ke China atau mengangkutnya dari tempat penyimpanan di sana. Kapal-kapal ini beroperasi di berbagai yurisdiksi, termasuk India dan China. Tindakan ini bertujuan untuk membatasi kemampuan Iran dalam menjual minyaknya dan memperoleh pendapatan.

Armada kapal bayangan Iran, yang dikenal luas, memiliki peran krusial dalam menyamarkan pengiriman minyak senilai miliaran dolar ke China, yang menjadi fokus utama dalam kebijakan sanksi terbaru. Kapal-kapal yang menjadi target pada Kamis termasuk Peace Hill berbendera Hong Kong, serta pemiliknya, Hong Kong Heshun Transportation Trading Limited. Selain itu, Polaris 1 berbendera Iran, Fallon Shipping Company Ltd yang terdaftar di Seychelles, dan Itaugua Services Inc yang terdaftar di Liberia juga masuk dalam daftar.

Reaksi dan Implikasi Lebih Lanjut

Departemen Luar Negeri AS juga menetapkan tiga entitas dan tiga kapal sebagai properti yang diblokir sebagai bagian dari sanksi. Situasi ini terjadi di tengah ketegangan yang berkelanjutan, dengan Iran yang menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai, sementara Amerika Serikat dan negara-negara lain menyuarakan kekhawatiran tentang hal itu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran mengisyaratkan kemungkinan perundingan dengan Amerika Serikat, asalkan kedua negara berada pada kedudukan yang ‘setara’.

Latihan Angkatan Laut gabungan yang dilakukan oleh China, Iran, dan Rusia di Timur Tengah semakin menambah kompleksitas situasi. Tindakan ini mencerminkan dinamika geopolitik yang kompleks dan upaya berkelanjutan dari berbagai pihak untuk mempengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan.