Notification

×

Iklan

Iklan

contoh-banner-di-tribunpasundan-1

News Ticker

Untuk kerjasama dan iklan di TribunPasundan.com , silahkan hubungi 0857-1857-1347

PBB Serukan Akhiri Kekerasan di Suriah: 14 Tahun Protes!

Selasa, 25 November 2025 | November 25, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-25T03:44:19Z

Seruan ini muncul di tengah situasi negara yang kembali dilanda gelombang kekerasan, tiga bulan pasca keruntuhan kepemimpinan Presiden Bashar al-Assad. Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah mendesak penghentian segera aksi kekerasan dan perlindungan bagi warga sipil di negara yang dilanda konflik berkepanjangan tersebut.

Pernyataan Geir Pedersen pada Peringatan

Geir Pedersen menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat, 14 Maret, saat peringatan 14 tahun sejak dimulainya protes pro-demokrasi yang dipicu oleh kepemimpinan al-Assad. Protes ini berujung pada perang saudara yang telah berlangsung lebih dari satu dekade di Suriah.

Perang Saudara yang Mengerikan

Pederson menyatakan, "Apa yang dimulai sebagai aspirasi untuk reformasi disambut dengan tindakan brutal yang mengejutkan, hingga memicu salah satu konflik paling mengerikan di zaman kita." Konflik ini mengungkap penderitaan mendalam akibat kekejaman manusia.

Dampak Konflik yang Luas

Banyak keluarga terus merasakan duka atas kehilangan orang-orang tercinta, sementara masyarakat tetap terpecah belah. Jutaan orang terusir dari tempat tinggal mereka, dan banyak yang masih mencari anggota keluarga yang hilang.

Pengungsian dan Korban

Menurut data PBB, konflik tersebut telah menyebabkan sekitar 12 juta orang di Suriah mengungsi, termasuk lebih dari 6 juta pengungsi. Harapan untuk pemulihan stabilitas terusik akibat gelombang kekerasan mematikan yang dimulai pada 6 Maret.

Kekerasan Terbaru dan Latar Belakang

Kekerasan ini terjadi di wilayah pesisir Suriah, di mana pasukan keamanan terlibat bentrokan dengan pejuang yang setia kepada mantan presiden Assaf. Akibatnya, ratusan orang tewas, termasuk warga sipil. Para pejuang ini merupakan anggota minoritas Alawite di negara tersebut, kelompok agama yang juga menjadi basis keluarga Assad.

Upaya Pemberontakan

Otoritas transisi Suriah mengklaim bahwa pasukannya di dekat kota pelabuhan Latakia, wilayah tempat sekte tersebut bermukim, diserang secara terencana oleh loyalis Assad yang berupaya melakukan pemberontakan. Pedersen, pada Jumat, 14 Maret, juga menyoroti pentingnya perjanjian baru-baru ini antara otoritas transisi Suriah dan kelompok bersenjata, Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Seruan untuk Solusi Damai

Perjanjian tersebut, menurutnya, “merupakan pengingat positif tentang betapa pentingnya Suriah bersatu untuk benar-benar memulihkan kedaulatan, persatuan, kemerdekaan, dan integritas teritorialnya.” Ia mendesak pembentukan “pemerintahan transisi dan badan legislatif yang kredibel dan inklusif; kerangka kerja dan proses konstitusional untuk menyusun konstitusi baru untuk jangka panjang yang kredibel dan inklusif; dan keadilan transisi yang sejati.”

Margaret Besheer turut berkontribusi dalam laporan ini dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.